OPTIMALISASI MEDIA DUA DIMENSI TANPA PROYEKSI DALAM MENINGKATKAN PEMEROLEHAN BAHASA ARAB SISWA

Artikel ini dimuat dalam jurnal Al Maqoyis 2016 Vol 3 No 1. Silakan Klik DISINI
Oleh: Hasan

Abstrak
Dewasa ini media pelajaran sangat berkembang dengan pesatnya, baik harganya yang murah bahkan sampai mahal pun ada. Ketika media yang kita inginkan tidak dapat dibeli karena alasan financial yang belum mencukupi atau alasan yang lain. Itu tentunya tidak bisa dijadikan alasan untuk menghadirkan media yang dapat digunakan ketika sedang dalam pembelajaran. Untuk sekolah yang anggaran belanja untuk media yang sedikit tidak perlu khawatir. Hal itu bisa disiasati dengan mengoptimalkan media pembelajaran yang sudah ada di sekolah/kelas. Setiap sekolah bisa dipastikan memiliki media papan tulis. Ketika sebuah media dioptimalkan penggunaannya oleh guru di kelas seperti halnya papan tulis, maka hasilnya pun akan  menggembirakan. Untuk itu kreatifitas dan inovasi seorang guru mutlak diperlukan dan ditingkatkan guna meningkatkan hasil belajar siswa.

Kata Kunci:
Optimalisasi, media, guru


Pendahuluan
Dalam hal pembelajaran bahasa asing, tidak dapat kita pungkiri bahwa media pengajaran bahasa Inggris jauh lebih baik dan bagus ketimbang dengan media pengajaran bahasa asing lainnya khususnya bahasa Arab. Walaupun tidak serta merta disebut bahwa media pengajaran bahasa Arab tertinggal dengan bahasa Inggris. Seharusnya kelebihan media pengajaran bahasa Inggris yang dikatakan lebih maju tersebut dapat diterapkan dalam media pengajaran bahasa manapun khususnya bahasa Arab.
Dengan kemajuan teknologi sekarang yang semakin pesat seperti internet. Internet juga berfungsi sebagai alat informasi yang selalu memberikan perkembangan yang selalu up to date bagaimana penggunaan media dalam pengajaran bahasa Inggris di wilayah Eropa misalkan dapat serta merta kita ketahui dari internet. Informasi tentang pengajaran bahasa Inggris yang menurut kita baik dapat digunakan dalam pengajaran bahasa Arab selayaknya kita ambil dan kita kembangkan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pengajaran bahasa Arab.
Ada anggapan yang menyatakan bahasa Arab merupakan bahasa yang sulit dipelajari[1] baik itu dari segi kalimat (kata dalam bahasa Indonesia) maupun dari segi yang lainnya. Ketika anggapan tersebut sudah masuk dalam otak bawah sadar siswa, bagaimana pun mudahnya masih saja dikatakan sulit. Kesulitan tersebut biasanya diawali dengan sedikitnya atau bahkan tidak ada sama sekali pemerolehan bahasa Arab siswa disamping permasalahan-permasalahan yang lainnya.
 Dalam sebuah cover belakang kamus saku bahasa Indonesia Arab Inggris yang berjudul Hilyah ditulis sebuah kalimat yang sangat menarik bagi saya yaitu “The limit of your language is the limit of your word”.[2] Yang artinya batas bahasamu adalah batas duniamu, dalam artian bahasa dapat dijadikan sebuah alat untuk berkomunikasi. Bahkan ada yang berpendapat, jika kita mengerti bahasa suatu bangsa maka kita akan selamat dari kejahatan mereka.
Ketika didapati pemerolehan bahasa Arab siswa masih rendah, guru dapat menempuh beberapa strategi untuk mengatasi masalah tersebut salah satunya dengan pengoptimalisasian media khususnya media 2 dimensi non proyeksi yang dikhususkan untuk meningkatkan pemerolehan bahasa (iktisab al-lughah/language acquisition) Arab siswa khususnya bagi sekolah yang masih memiliki dana pembelian media canggih. Ketika pemerolehan bahasa Arab siswa semakin baik akan semakin baik pula kemampuan berbahasa Arabnya apakah baik itu dari segi qiraah maupun kitabah.
Kemajuan ilmu pendidikan dan teknologi khususnya teknologi informasi sangatlah berpengaruh terhadap penyusunan dan implementasi strategi pembelajaran. Melalui kemajuan tersebut guru dapat menggunakan berbagai media sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran. Dengan menggunakan media bukan saja dapat mempermudah dan mengefektifkan proses pembelajaran tetapi juga bisa membuat proses pembelajaran lebih menarik. Kenyataannya dalam kegiatan belajar mengajar sering penggunaan media diabaikan atau seringkali guru khususnya di daerah masih menggunakan pengajaran konvensional dan metode ceramah tanpa menggunakan media dalam pembelajarannya sehingga siswa sering mengantuk dan tidak mendapatkan apa-apa. Sekolah hanya dijadikan sebagai aktivitas seremonial atau kegiatan yang memang sudah harus dilalui dalam proses siklus kehidupannya. Untuk itulah pada dewasa ini guru dituntut untuk memahami peranan media di dalam proses mendapatkan pengalaman belajar bagi siswa, menambah motivasi siswa dan yang lebih penting lagi adalah bahwa optimalisasi penggunaan media diarahkan untuk mempermudah siswa belajar dalam upaya memahami materi pelajaran apapun terlebih bahasa Arab.
Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan pelajaran yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara.


Pengertian Optimalisasi Pengoptimalan dan Media 2 Dimensi Tanpa Proyeksi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pengoptimalan berasal dari kata optimal yang diberi awalan pe- dan akhiran -an yang berarti proses, cara, perbuatan mengoptimal-kan (menjadikan paling baik, paling tinggi, dan lain sebagainya).[3] Dalam arti lain optimalisasi adalah cara yang ditempuh untuk menjadikan sesuatu dalam hal ini media menjadi terbaik. Meminjam teori ekonomi yakni bagaimana dengan modal seminimal mungkin dapat meraup keuntungan semaksimal mungkin. Begitu pun halnya dengan media, bagaimanapun terbatasnya media yang digunakan guru tetapi dipergunakan secara seksama akan menghasilkan pemahaman siswa menjadi lebih baik.
Pengertian media banyak sekali kita temukan di banyak literatur pendidikan. Secara bahasa, media berasal dari bahasa latin yakni medium yang diartikan sebagai perantara, penengah. Sedangkan dalam bahasa Arabnya adalah  وسيلة ج وسائل artinya pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.[4] Bahkan para pakar pendidikan yang bergabung dalam organisasi juga mendefenisikan arti media seperti Association of Education and Communication Technology (AECT) di Amerika mendefenisikan media dengan segala sesuatu bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi, sedangkan National Education Association (NEA) mendefenisikan media dengan bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya.[5] Namun dari berbagai definisi yang diutarakan dapat dipahami media adalah alat bantu apa saja yag dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran.[6]
Media yang termasuk ke dalam media 2 dimensi adalah papan tulis, grafik, chart atau  bagan, peta, diagram, poster, karikatur, kartu, komik, gambar, photo, buku, majalah, diktat, makalah dan lain-lain. Media-media ini jika digunakan dengan sungguh-sungguh dalam pengajaran bahasa Arab tidak kalah dengan media multi media yang notabene sudah canggih. Dalam makalah ini lebih difokuskan dalam pembahasan penggunaan papan tulis dan kartu sebagai media pengajaran bahasa Arab.

Pemanfaatan Media 2 Dimensi non Proyeksi dalam Pembelajaran Bahasa Arab
Dalam hal pembelajaran bahasa asing, tidak dapat kita pungkiri bahwa media pengajaran bahasa Inggris jauh lebih baik dan bagus ketimbang dengan media pengajaran bahasa asing lainnya khususnya bahasa Arab. Walaupun tidak serta merta disebut bahwa media pengajaran bahasa Arab tertinggal dengan bahasa Inggris. Seharusnya kelebihan media pengajaran bahasa Inggris yang dikatakan lebih maju dan baik tersebut dapat diterapkan dalam media pengajaran bahasa manapun khususnya bahasa Arab.[7]
Dengan kemajuan teknologi sekarang yang semakin pesat seperti internet. Internet juga berfungsi sebagai alat informasi yang selalu memberikan perkembangan yang selalu up to date bagaimana penggunaan media dalam pengajaran bahasa Inggris di wilayah Eropa misalkan dapat serta merta kita ketahui dari internet. Informasi tentang pengajaran bahasa Inggris yang menurut kita baik dapat digunakan dalam pengajaran bahasa Arab selayaknya kita ambil dan kita kembangkan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pengajaran bahasa Arab. Khususnya kepada seluruh guru dan dosen bahasa Arab agar dapat memanfaatkan media internet untuk mengumpulkan infomasi-informasi yang berharga dan selanjutnya dapat diterapkan ke dalam pengajaran bahasa Arab.
Menurut Hamalik, banyak tenaga pengajar yang masih keliru tentang penggunaan media sebagai alat bantu guru untuk mengajar lebih efisien yang seharusnya segera dihilangkan. Lanjut dia, media itu sebenarnya adalah alat bantu pengajaran yang lebih banyak berguna membantu siswa belajar ketimbang membantu guru mengajar. Itu sebabnya mempelajari masalah media tidak bisa asal-asalan.penggunaan media pengajaran harus terpusat pada siswa, sebab media berfungsi membantu siswa belajar agar lebih berhasil.[8]
Proses belajar-mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi. Dalam proses komunikasi tersebut tiga komponen yang penting yang memainkan perannya yaitu: pesan yang disampaikan dalam hal ini adalah kurikulum, komunikator dalam hal ini adalah guru, dan komunikan dalam hal ini adalah siswa. Agar proses komunikasi berjalan dengan lancar atau berlangsung secara efektif dan efisien diperlukan alat bantu yang disebut media pengajaran. Walaupun tanpa media pengajaran sekalipun, proses belajar mengajar dapat terlaksana sebagaimana yang diharapkan akan tetapi hasil yang diperoleh tidak sama dengan yang diharapkan.
Penggunaan media dalam pengajaran bahasa khususnya bahasa Arab sangat membantu sekali dalam proses pembelajarannya. Media tidak hanya berguna bagi anak-anak, bahkan bagi orang dewasa sekalipun. Telah banyak penelitian yang membuktikan bahwa penggunaan media dalam pengajaran bahasa Arab sangat efektif, sayangnya tidak banyak guru yang menggunakan media dalam proses pembelajaran di kelas. Banyak hal yang menjadi alasan tidak digunakannya dalam proses pengajaran, salah satu diantaranya adalah karena menurut guru, penyediaan media pengajaran membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Dalam hal ini guru tidak mau banyak mengambil risiko, sehingga pengajaran bahasa menjadikan siswa cepat bosan karena monoton (itu-itu saja) tidak banyak variasi pengajaran yang dipraktikkan.[9]
Sering terjadi dalam sebuah pengajaran, siswa merasa bosan dan malas mempelajari materi yang disampaikan guru. Tidak sedikit pula muncul pula keluhan dari siswa yang merasa bingung dan tidak paham akan materi yang disampaikan walaupun guru telah berusaha sedemikian kuat menerangkan materi. Ironisnya lagi, terkadang juga keluhan dari siswa tersebut tidak ditanggapi dan diatasi secara benar dan tepat oleh guru, sehingga prestasi belajar mereka rendah dan bahkan mematikan semangat mereka dalam mempelajari sebuah pelajaran. Keadaan semacam ini tidak hanya terjadi dalam pelajaran bahasa Arab bahkan seluruh pelajaran yang ada.
Media pertama yang dibahas pengoptimalisasiannya adalah media papan tulis. Siapa yang tidak mengenal media semacam ini, semua orang yang pernah mengecap bangku sekolah maupun perkuliahan sudah pasti akan mengenalnya bahkan dapat dikatakan media ini media yang sudah tidak asing lagi dan media yang merakyat. Dari sekolah minim peralatan bahkan sekolah modern sekalipun sudah dipastikan mempunyai media semacam ini samai sekarang.
Selain papan tulis digunakan untuk menulis dan melukis, juga dapat digunakan untuk menempelkan atau menayangkan mufradat bahasa Arab atau informasi lain bahkan juga dapat digunakan untuk  menjadi pengganti layar dari slide OHP maupun LCD proyektor. Dalam pengajaran bahasa Arab, papan tulis sangat berguna untuk menayangkan hampir semua aspek pelajaran. Mulai dari sekedar menulis mufradat/kosa kata sampai kepada penulisan naskah cerita (qishah).[10]
Permasalahan yang biasanya terjadi ketika penggunaan papan tulis menjadi media ajar. Pemanfaatan papan tulis umumnya hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan guru untuk menulis dan bukan pada prinsip penciptaan kesan dan pesan yang mengandung informasi bagi siswa. Masalah ini timbul karena guru kurang bahkan tidak memberikan perhatian serius dalam pemanfaatannya secara optimal dan tentu saja siswa pun tidak mendapatkan hasil yang maksimal.
Masalah yang lain adalah ada juga guru memanfaatkan papan tulis tetapi informasi yang ditulis tersebut tidak sistematis bahkan berantakan, dan ini hanya akan menjadikan siswa bingung. Tentunya hal ini tidak kita inginkan sama sekali.
Hermawan mengutip perkataan Abdul ‘Alim Ibrahim, “bahwa guru yang tidak baik dalam menggunakan papan tulis sama dengan setengah guru”[11]. Atau dengan kata lain, guru tersebut bukanlah guru yang sebenarnya.
Ada beberapa hal yang dapat guru lakukan dalam mengoptimalkan media papan tulis yakni:[12]
1.        Biasakan mengawali pelajaran dengan papan tulis bersih. Hal ini menunjukkan bahwa guru yang akan mengajar siap melaksanakan tugas, juga menghemat waktu ketika akan menuliskan sesuatu di papan tulis.
2.        Tuliskan topik pelajaran di bagian atas papan tulis dan biarkan untuk terus bisa dilihat siswa karena mereka akan fokus dan tidak perlu lagi bertanya-tanya tema apa yang dibahas.
3.        Sediakan tempat kosong di papan tulis agar kita bisa menuliskan kata-kata kunci. Jika guru menuliskan semua pelajaran di papan tulis, waktu akan terbuang percuma, seharusnya penjelasan gurulah yang diperhatikan bukannya mencatat pelajaran di papan tulis.
4.        Hindarkan memenuhi papan tulis dengan terlalu coretan, garis, gambar yang membuat siswa bingung. Usahakan tulisan guru ditulis dengan jelas dan mudah dibaca siswa.
5.        Hindari selalu berdiri dengan apa yang kita tuliskan di papan tulis, karena hal ini akan menghalangi siswa mencatat apa yang guru tulis.
6.        Hapuslah seluruh kata-kata, gambar, bagan di papan tulis yang memang akan kita hapus agar tidak membuat siswa bingung.
7.        Pada saat menulis biasakanlah untuk tidak berbicara sambil menulis, guru baru berbicara ketika selesai menulis.
Untuk mengecek sudah berapa jauh guru berhasil mengoptimalkan papan tulis, maka guru bisa mengeceknya dengan melihatnya dari jarak-jarak tertentu di sela-sela waktu melakukan pengajaran.

Media selanjutnya yang dibahas pengoptimalisasiannya adalah media kartu. Media kartu adalah media visual yang merupakan bagian dari media sederhana. Pengertian kartu adalah  kertas tebal berbentuk persegi panjang (untuk berbagai keperluan) atau juga dapat ditentukan sendiri oleh guru. Penggunaan media gambar dan  kartu sangat cocok dengan karakteristik siswa usia SD kelas IV-VI yang notabene masih anak-anak. Menurut teori psikologi pendidikan anak pada usia ini tengah berada pada tahap concreteoperatioanl (8-11 tahun) oleh karena itu mereka memerlukan banyak ilustrasi, model, gambar dan kegiatan lainnya.
Jenis media kartu ini adalah termasuk dalam jenis media 2 dimensi non proyeksi yang hanya mempunyai dimensi panjang dan lebar
Jenis media kartu adalah pertama, kartu pertanyaan dan jawaban (Bithoqah al- Asilah wa al- Ijabah). Penggunaan kartu ini biasanya untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap teks. Kedua, kartu penyempurna (Bithoqah al- Takmilah). Penggunaan kartu ini juga untuk melihat tingkat pemahaman siswa. Ketiga,  kartu kosa kata (Bithoqah al- Mufrodat). Kegunaannya adalah untuk menjelaskan  kosa kata baru atau kalimat-kalimat yang dianggap sulit dan penting. Keempat, kartu tiruan (Bithoqah al -Mushoghor). Kartu ini dibuat dengan cara menempelkan cheek bank, jadwal pelajaran, jadwal penerbangan, jadwal kereta, formulir pendaftaran atau formulir-formulir lain yang dikecilkan.[13]
Media kartu dapat digunakan dalam pelajaran bahasa Arab dalam melatih kemahiran berbicara (maharah al-Kalam) dan kemahiran membaca (maharah al-Qiraah) bahkan menambah dan memperkaya mufradat yang ada . Di antara cara yang dapat digunakan dalam optimalisasi media kartu dengan dikolaborasikan dengan permainan baik berkelompok maupun perorangan.
Pengoptimalisasian media kartu  dapat dipraktikkan melalui permainan bahasa (al al’ab al-lughawiyah) seperti penggunaan kartu. Permainan bahasa merupakan salah satu metode dalam pengajaran bahasa Arab yang telah banyak dipraktikkan di mayoritas negara dan mereka menyambutnya dengan positif. Bahkan permainan bahasa yang dikolaborasikan dengan media yang sesuai dengan pelajaran merupakan cara yang paling baik dalam membantu pengajar memberikan pemahaman terhadap siswa serta memudahkan bagi mereka untuk mengerti pelajaran.[14]  Selain itu, dalam melakukan permainan, guru perlu mengadakan permainan di luar kelas, karena pengajar tidak selalu di dalam kelas. Hal ini dilakukan agar siswa lebih rileks dan tidak jenuh dalam kelas, sehingga suasana belajar menjadi menyenangkan.
Permainan bahasa merupakan sarana pengajaran baru dalam pengajaran bahasa Arab dan perlu diingat bahwa permainan bahasa tidak dimaksudkan untuk mengukur atau mengevaluasi hasil belajar siswa, akan tetapi digunakan sebagai langkah pendekatan dalam pembelajarannya. Untuk evaluasi dapat digunakan cara dan metode yang lainnya.
Pada dasarnya permainan mengajarkan adanya unsur kerjasama atau kerja tim (team work) yang satu sama lain harus saling memahami. Sebuah kerja tim yang bertujuan untuk mencapai tujuan bersama. Di samping  itu belajar memahami makna sportivitas.
Ada asumsi yang ada di kalangan pelajar, bahwa permainan dalam pengajaran bahasa Arab hanya cocok untuk usia anak-anak, padahal ada beberapa permainan bahasa yang cocok untuk usia-usia muda bahkan usia tua. Karena ada sesuatu hal yang tidak akan didapat ketika metode yang digunakan belajar bahasa dengan selain permainan bahasa.   
Media kartu termasuk media visual seperti halnya media gambar dan materi-materi lain yang dapat dilihat. Media kartu termasuk salah satu media sederhana yang dapat dengan efektif membantu proses belajar, terutama belajar bahasa. Dimana dengan adanya kartu yang berisikan tulisan atau gambar-gambar akan meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam belajar.
Pada penggunaan media kartu, kita mengenal salah satu model kartu yang populer yaitu “flashcards”. Flashcards adalah kartu yang berisikan gambar, kata, frasa dan lain-lain. Kartu ini dikenal dengan nama flash yang berarti secepat kilat, karena penggunaan kartu ini adalah dengan cara memperlihatkan apa yang ada di atas kartu dengan cepat (flash).
Untuk mempelajari dan memperkaya kosa kata bahasa Arab, penggunaan media kartu sangat mendukung karena siswa dapat mempelajari dan menghafal kosa kata sedikit demi sedikit secara rutin melalui kartu yang mudah dan penggunaannya yang praktis, dimana guru dapat secara langsung membawa media kedalam kelas dan menyajikannya tanpa terpaku pada buku teks yang ada. Media kartu (flash cards) dapat membantu guru dalam proses belajar bahasa Arab khususnya tentang penguasaan dan pemahaman kosa kata. Pengembangan media kartu sebagai media instruksional pada mata pelajaran bahasa Arab diharapkan dapat mamberikan pengaruh yang positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, khususnya dalam peningkatan kemampuan siswa. Selain itu media kartu atau flash cards dapat digunakan dengan cara yang rekreatif, misalnya pada saat proses belajar mengajar berlangsung, guru memberikan kesempatan pada siswa untuk mengamati kartu yang ditunjukkan satu persatu dan kemudian bagi siswa yang bisa menjawab boleh langsung mengambil kartu-kartu tersebut dengan sistem permainan ini akan bisa menciptakan suasana yang menyenangkan bagi siswa dalam mempelajari kosa kata bahasa Arab.…………………………….
Penggunaan media gambar dan kartu kata di dalam kelas dapat dilakukan dengan berbagai macam cara disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Misalnya keterampilan yang ingin dicapai atau unsur bahasa yang manakah yang ingin dikuasai. Tujuan-tujuan itu harus sudah direncanakan sebelum menentukan model gambar dan kartu yang akan dipakai dalam proses pengajaran di kelas. Untuk kemahiran berbicara misalnya, kartu yang diperlukan adalah kartu yang berisis dialog yang dibagikan secara berpasangan dengan bentuk kartu yang lebih kecil. Sedangkan untuk kemahiran menulis, kartu dibagi perseorangan sesuai dengan model latihan yang diinginkan tujuan pembelajaran. Untuk kemahiran mendengar atau menyimak  dibutuhkan kartu dengan tulisan yang terkait dengan isi bacaan.
Khsusus untuk penggunaan kartu dalam kemahiran menyimak atau mendengar dapat dilakukan guru dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Bagikan potongan-potongan kartu yang di dalamnya dilengkapi dengan alternatif jawaban benar atau salah (B/S).
2.    Perdengarkan bacaan teks atau nash melalui kaset atau compact disk (CD) dan siswa ditugaskan untuk menangkap isi bacaan secara umum.
3.    Setelah bacaan selesai, para siswa diminta membaca pernyataan-pernyataan yang telah dibagikan, kemudian memberikan jawaban-jawaban benar atau salah terhadap isi bacaan yang didengar. Jika pernyataan tersebut sesuai dengan isi bacaan yang didengar berarti benar, dan jika tidak sesuai maka jawabannya salah.
4.    Mintalah masing-masing siswa untuk menyampaikan jawabannya.
5.    Perdengarkan sekali lagi kaset tersebut agar masing-masing siswa dapat mencocokkan kembali jawaban yang telah ditulis.
6.    Berikan klarifikasi terhadap semua jawaban tersebut agar semua siswa mengetahui kebenaran dari jawaban mereka masing-masing.[15]

Menurut pendapat Rosyidi strategi yang dapat dilakukan dalam pemanfaatan media dalam pengajaran dibagi menjadi 3 macam yakni pertama, persiapan sebelum menggunakan media, kedua, kegiatan selama menggunakan media dan ketiga, kegiatan setelah menggunakan media.[16]
Persiapan sebelum menggunakan media adalah:
1.      Supaya penggunaan media dapat berjalan dengan baik, maka perlu dibuat persiapan yang baik pula, pertama-tama harus dipelajari buku petunjuk yang telah disediakan, kemudian ikuti petunjuk yang sudah ada. Hal ini lebih-lebih dengan media elektronik yang memerlukan perawatan yang sulit.
2.      Peralatan yag diperlukan untuk menggunakan media tersebut juga dipersiapkan sebelumnya.
3.      Bila media itu digunakan secara berkelompok sebaiknya tujuan yang akan dicapai dibicarakan dahulu dengan semua anggota kelompok. Hal itu penting supaya perhatian dan pikiran terarah ke hal yang sama.
4.      Peralatan media perlu ditempatkan dengan baik sehingga dapat dilihat dan didengar oleh siswa sehingga semua siswa dapat memperoleh kesempatan melihat dan mendengar ketika media tersebut digunakan dalam pengajaran.


Kegiatan selama menggunakan media adalah selama dalam penggunaan media suasana dan kondisi mendukung dalam penggunaan media dalam artian suasananya harus dalam keadaan tenang. Gangguan-gangguan yang dapat mengganggu perhatian dan konsentrasi siswa dan guru harus dihilangkan. Kalau memungkinkan ruangan jangan digelapkan sama sekali, supaya masih dapat menulis bila dijumpai hal-hal penting yang perlu diingat dan selanjutnya ditulis. Perlu diingat pula dalam menggunakan media hendaknya tidak terlalu lama untuk ditampilkan dihadapan siswa, hal itu akan membuat kejenuhan pada siswa.
Kegiatan setelah menggunakan media adalah melakukan evaluasi terhadap tingkat keberhasilan pengunaan media yang telah digunakan dan menentukan langkah-langkah selanjutnya untuk mengembangkan media yang ada. Apabila sekiranya hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan maka media yang telah digunakan dapat ditinggalkan dan sebaliknya dapat ditingkatkan lagi dalam penggunaannya sehingga media tersebut dapat terus berkembang
Di dalam pengajaran bahasa Arab untuk anak usia MI, media ini dipilih karena dapat merangsang minat dan perhatian siswa. Selain itu, gambar yang dipilih dan diadaptasi secara tepat dapat membantu siswa dalam mengingat informasi bahan-bahan verbal yang apabila yang akan diajarkan menyangkut konsep tentang warna, maka gambar-gambar berwarna sangat tepat digunakan dan ini akan lebih menarik perhatian siswa. Pelajaran bahasa Arab di MI yang notabenenya masih tergolong usia anak-anak, memerlukan strategi khusus yang sesuai dengan jiwa dan karakteristik anak yaitu belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar. Salah satunya adalah dengan menggunakan media gambar atau kartu kata. Media tersebut dapat menarik perhatian anak-anak yang memang suka pada gambar-gambar dan permainan (dalam hal ini berupa kartu kata). Mereka akan belajar dengan senang sehingga tidak merasa bosan atau jenuh dan akan lebih giat dan semangat dalam mengikuti pelajaran yang diberikan.
Dalam psikologi pendidikan dikenal adanya empat tahap perkembangan yaitu: (1) sensorimotor stage (lahir sampai usia 2 tahun),(2) preoperational stage (2-8 tahun), (3) concreteoperational (8-11 tahun), dan (4) formalstage (11-15 tahun ke atas). Jadi apabila anak MI belajar bahasa Arab mulai kelas IV maka mereka sedang dalam tahap concrete operational dan oleh karena itu mereka memerlukan banyak ilustrasi, model, gambar, dan kegiatan-kegiatan lain. Hal ini dipertegas dalam Suyatno yang mengatakan bahwa ada tiga sumber perhatian untuk anak-anak di dalam kelas yaitu gambar, cerita, dan permainan.[17] Anak-anak senang melihat gambar terutama yang menarik, jelas, dan berwarna. Demikian pula anak senang mendengar cerita, dan suka membaca apalagi bila dilengkapi dengan gambar-gambar. Belajar bahasa sambil bermain merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi mereka atau sering disebut dengan recreationaltime out activities.

Penutup
Media apapun  yang  digunakan dalam pengajaran bahasa Arab jika dioptimalkan seoptimal mungkin juga akan menghasilkan hasil yang semaksimal mungkin juga. Seperti media 2 dimensi non proyeksi dalam hal ini papan tulis dan kartu. Penggunaannya bisa dikolaborasikan dengan teknik permainan bahasa atau belajar di luar kelas. Sehingga pembelajaran bahasa Arab di kelas semakin menarik dan tentunya akan meningkatkan hasil belajar siswa
Media pengajaran adalah suatu bagian yang integral dari proses pengajaran di kelas. Untuk mencapai hasil belajar yang maksimal, guru harus mempunyai pengetahuan tentang pengelolaan media pengajaran baik sebagai alat bantu pengajaran maupun sebagai pendukung agar materi/isi pelajaran semakin jelas dan dengan mudah dapat dikuasai siswa. Media pengajaran bahasa Arab semakin banyak kuantiasnya dan diharapkan begitu juga dengan kualitas yang diberikan.
Walaupun satu media saja yang dimiliki tapi guru dapat mengoptimalkan media tersebut dengan sebaik-baiknya. Seorang guru harus mengetahui media yang mana harus dipilih sesuai dengan tujuan pengajaran yang ingin dicapai, bila hal tersebut telah dipenuhi akan memudahkan dalam strategi dan metode pengajaran mana yang digunakan dan keoptimalan sebuah media pun dapat terpenuhi serta dalam optimalisasi media dalam pengajaran jangan lupa  mengikutsertakan kreativitas siswa dam menuangkan ide dan saran mereka sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai sesuai dengan yang diharapkan.
Jika pengajaran bahasa Arab dilaksanakan dengan baik maka stigma negatif bahasa Arab sebagai salah satu bahasa yang susah dipelajari sedikit demi sedikit akan hilang dengan sendirinya. Wallahu a’lam bi al-shawab.


DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: PT Rineka Cipta: 2006) 
Hamalik, Oemar, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta:Bumi Aksara: 2010) 
Hamid, Abdul at all, Pembelajaran Bahasa Arab; Pendekatan, Metode, Strategi, Materi, dan Media (Malang: UIN Malang Press: 2008)  
Hanifansyah, M. Nur, Hilyah Mutiara Ilmu Peribahasa Arab dan Inggris, (Surabaya: Imtiyaz, 2013)
Hermawan, Acep, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: Rosdakarya, 2011)  
Mushtafa, Abd Aziz, Naship, al- Al’ab al-Lughawiyyah fi Ta’lim al-Lugat al-Ajnabiyyah Ma’a Amstilat Lita’lim al-‘Arabiyyah Li Ghairi al-Nathiqin Biha (Riyadh: Al-Mamlakah al-‘Arabiyyah al-Sa’udiyyah: 1983) 
Mustofa, Syaiful, Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Inovatif  (Malang: UIN Malang Press: 2011) 
 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan  Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), (Jakarta: Balai Pustaka: 2007) 
Rosyidi, Abdul Wahab, Media Pengajaran Bahasa Arab (Malang: UIN Malang Press: 2009) 
 Sadiman, Arief. S. at all, Media Pendidikan; Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada: 2007) 
Suyanto, Kasihani, Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar (naskah pidato pengukuhan) (Malang: Universitas Negeri Malang: 2004).
Wahab, Muhbib Abdul, Pemikiran Tammam Hassan Dalam Pembelajaran Bahasa Arab, Jakarta: UIN Jakarta Press: 2009)




*Penulis adalah dosen Sekolah Tinggi Ilmu AlQuran (STIQ) Amuntai dan STIPER (Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Amuntai Kalimantan Selatan. Menyelesaikan S2 di SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
[1]Stigma negatif tentang sulitnya belajar bahasa Arab sebenarnya merupakan propaganda Barat/kolonialis agar umat Islam sedikit demi sedikit menjauhi agamanya, karena bahasa Arab adalah bahasa Al Quran sehingga bila umat Islam jauh dengan Al Quran maka akan jauh pula dengan agamanya. Lihat  Muhbib Abdul Wahab, Pemikiran Tammam Hassan Dalam Pembelajaran Bahasa Arab, Jakarta: UIN Jakarta Press, hal 2
[2] M. Nur Hanifansyah, Hilyah Mutiara Ilmu Peribahasa Arab dan Inggris, Surabaya: Imtiyaz, 2013
[3] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), (Jakarta: Balai Pustaka: 2007) hal. 800.
[4]  Abdul Hamid, at all, Pembelajaran Bahasa Arab; Pendekatan, Metode, Strategi, Materi, dan Media (Malang: UIN Malang Press: 2008) hal. 168.
[5] Arief. S. Sadiman, at all, Media Pendidikan; Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada: 2007) hal. 6-7.
         [6] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: PT Rineka Cipta: 2006) hal. 121.

[8] Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta:Bumi Aksara: 2010) Cet IX, hal 200-201.
[9] Abdul Wahab Rosyidi, Media Pengajaran Bahasa Arab (Malang: UIN Malang Press: 2009) hal. 20.
[10] Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: Rosdakarya, 2011) cet II, hal 232.
[11] Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hal 233. Lihat juga Abdul ‘Alim Ibrahim, Al Muwajjih al Fanni li Mudarrisi Al Lughah Al ‘Arabiyyah, (Mesir: Dar Al Maarif, 1962) hal 433.
[12] Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, hal 233-235.
[13]  Abdul Wahab Rosyidi, Media Pengajaran ,,.  hal. 70-72.
[14] ‘Abd Aziz, Naship Mushtafa, al- Al’ab al-Lughawiyyah fi Ta’lim al-Lugat al-Ajnabiyyah Ma’a Amstilat Lita’lim al-‘Arabiyyah Li Ghairi al-Nathiqin Biha (Riyadh: Al-Mamlakah al-‘Arabiyyah al-Sa’udiyyah: 1983) hal 7.
[15] Syaiful Mustofa, Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Inovatif  (Malang: UIN Malang Press: 2011) hal. 129-130.
[16]  Abdul Wahab Rosyidi dan Mamlu’atul Ni’mah, Memahami Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa Arab (Malang: UIN Malang Press: 2011) hal. 113-115. Lihat juga Abdul Wahab Rosyidi, Media Pembelajaran…., hal.  39-41.
[17] Kasihani Suyanto, Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar (naskah pidato pengukuhan) (Malang: Universitas Negeri Malang: 2004) hal. 4.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »