TIM PENILAI BUKU PENDIDIKAN AGAMA TAHUN 2021

 

Salah satu syarat buku ajar yang baik adalah buku tersebut sudah direview dan dinyatakan layak beredar di pasaran. Oleh karena itulah Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi, Kemenag RI membuka rekrutmen calon penilai buku pendidikan agama. Pembukaan dimulai sejak 2-10 Agustus 2021. “Pendaftaran calon penilai baru buku pendidikan agama ini kami laksanakan secara terbuka, profesional, kredibel dan mandiri. Bagi yang berminat, silakan mengisi formulir secara online melalui tautan https://bit.ly/FormulirCalonPenilaiBPA2021 ,” Penilaian Buku Pendidikan Agama (PBPA) termasuk pada program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan meningkatkan literasi masyarakat. “Sesungguhnya penyelenggaraan negara dalam rangka memenuhi pelayanan terhadap masyarakatnya. Maka memberikan pelayanan yang terbaik menjadi salah satu hal yang harus kami lakukan,”ujar Kepala Pusat LKKMO Prof. Arskal Salim, Selasa (3/8/2021). Dari proses pendaftaran sampai proses penilaian buku semuanya dikerjakan via online untuk itu pentingnya kecakapan dalam penggunaan internet sangatlah dibutuhkan.

Dua dosen STIQ Amuntai yakni H. Hasan, MA.Hum (penilai buku bahasa Arab) dan Akhmad Rusydi, MA (penilai buku al Quran Hadits) menorehkan prestasi dengan menjadi Tim Penilai Buku Pendidikan Agama di Kemenag RI. Melalui program yang diselenggarakan oleh Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKMO) Balitbang-Diklat Kemenag, keduanya berhasil menyingkirkan 1000 lebih dari peserta yang mendaftar program tersebut. Sekedar diketahui bahwa peserta yang mendaftar Reviewer Buku (Tim Penilai) berjumlah 1.556 orang dengan 28 bergelar professor, 407 bergelar doktor, dan sisanya bergelar magister. Seluruh rangkaian seleksi dilaksanakan dengan daring.

Setelah mengirim berkas yang diperlukan yang dinyatakan lulus untuk menjadi calon Penilai buku pendidikan agama yang dituangkan dalam SK Kepala Badan nomor 82 tahun 2021 tentang tim penilai buku pendidikan agama tahun 2021 yang sebelumnya wajib mengikuti bimtek penilaian selama 4 hari berturut-turut yakni 16-19 September 2021) via zoom meeting untuk menyamakan persepsi dengan seluruh pihak yang terkait dalam penilaian buku. Dalam pelaksanaan bimtek itu sendiri ternyata ada pre test dan post test yang perlu dilalui calon penilai buku. Di tahap ini banyak juga yang gugur karena semakin padatnya kegiatan yang dilakukan dan masih ada yang tidak mengikuti pre test maupun post test yang ada.

Selang 1 minggu dari bimtek dikeluarkanlah Surat Tugas Kepala Puslitbang LKKMO Kemenag Nomor: B-0222/P.III.3/TL.00/09/2021 yang menjadi dasar bagi penilai memulai tugasnya dalam menilai buku dan ditambahkan kepala Bada bahwa tahun 2021 ini merupakan tahun pertama penilaian buku pendidikan agama yang menggunakan aplikasi berbasis online.Semua penilaian buku dilakukan secara ful online melalui website https://pbpa.kemenag.go.id/ dengan akun yang sudah dibagikan kepada seluruh penilai buku.

Tampilan aplikasi berbasis web dalam penilaian buku PAI

Adapun yang menjadi item penilaian buku adalah Aspek: Isi/Materi, Kelayakan Penyajian (Kelengkapan), Grafika, Pengutipan, Transliterasi dan Istilah Keagamaan Lainnya. Semua aspek ini dijabarkan menjadi 53 item yang wajib dinilai oleh penilai buku sesuai kualifikasi keilmuan masing-masing. Ketika sudah diberikan penilaian maka buku tersebut  akan termasuk dalam kategori Layak Dengan Perbaikan Minor/Mayor Atau bahkan Tidak Layak Terbit.

Banyak suka maupun duka dalam melaksanakan penilaian buku diantaranya banyak ilmu yang diperoleh khususnya dalam penulisan buku dan karena dikejar deadline yang begitu singkat sedangkan buku yang dinilai berjumlah 10 buah dan banyaknya item yang dinilai mengakibatkan hampir satu pekan lembur sampai pagi.

Para Penilai merupakan gabungan dari tenaga fungsional/ahli internal Kementerian Agama dan/atau tenaga fungsional/ahli dari eksternal Kementerian Agama yang memenuhi kriteria sebagai berikut: Berpendidikan minimal S2, Memiliki  kompetensi terkait aspek  substansi/materi, bahasa, penyajian, dan kegrafikaan, serta tahqiq dalam penggunaan istilah keagamaan lainnya terkait Buku Pendidikan Agama yang dinilai, Memiliki kompetensi terkait kurikulum dan pembelajaran serta keterbacaan Buku Pendidikan Agama. (HH)

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »